Uang Rusak Dari ATM BCA
Hari Senin kemarin saya mengambil uang di ATM BCA Gedung Kyoei Prince Sudirman. Di sana hanya ada mesin ATM pecahan Rp50.000,-. Seperti biasa, saat uang keluar saya hanya menghitung jumlah lembaran yang saya terima. Sorenya saya pergi belanja toolkit di Glodok Plaza. Saat membayar, penjaga tokonya mengembalikan 1 lembar uang lima puluh ribuan yang saya bayarkan. Dia minta tukar dengan lembaran yang lain. Saya juga kaget melihat satu lembar uang lima puluh ribuan yang cacat di bagian ujungnya. Lihat fotonya di bawah ini :
Saya begitu yakin uang itu berasal dari mesin ATM karena sebelum mengambil uang saya hanya punya beberapa lembar seratus ribuan di dalam dompet. Kok bisa ya BCA memasukkan uang rusak macam itu ke dalam mesin ATMnya. Kalau uangnya sobek lalu disambung lagi saya masih bisa maklum. Tapi lembaran uang tadi hilang potongan ujungnya. Jadi bagian ujungnya disambung dengan kertas biru menggunakan selotip. Angka 5 dan separuh angka 0 dibuat dengan tulisan tangan, sepertinya ditulis dengan spidol. Ada yang bisa beri tahu saya gak, uang macam ini masih sah sebagai alat pembayaran gak ya?
Makan & Kartu Kredit
Belakangan saya baru tahu kalau cukup banyak rekan kantor saya yang sering makan siang dengan memanfaatkan aneka promo/diskon dari penyedia kartu kredit. Anda yang punya kartu kredit tentu tahu kalau bank penerbit kartu kredit sering mengadakan promo potongan harga dengan beberapa restoran, coffee shop, kafe, dll.
Budaya pinjam meminjam kartu kredit juga rupanya sudah berkembang di antara rekan-rekan saya di kantor. Misalnya di restoran A sedang ada promo makan potongan harga sekian persen dari kartu kredit X, beramai-ramai cari rekan yang punya kartu kredit X untuk pergi makan ke sana. Bergantian tergantung promo apa yang ada dan jenis kartu kredit yang menyediakan potongan harga. Jadi kalimat-kalimat seperti:
“Eh ayo kita makan di sana, ada potongan 10% kalau bayar pakai kartu kredit X” atau
“Kita pinjam kartu kreditnya si A aja, di sana lagi ada diskon 50% pake kartu kredit itu”
sudah biasa terdengar kalau mendekati waktu makan siang. Potongan 10% pun bisa jadi daya tarik tersendiri bagi rekan-rekan saya untuk menentukan tempat makan siang. Hmm..saya juga cukup terheran-heran dengan budaya macam ini. Potongan 10% memangnya ngefek ya? Kalau makan sejumlah Rp100.000,- berarti potongannya cuma Rp10.000,- gak gede-gede amat kan? Mungkin mereka juga tidak sadar kalau pelan-pelan digiring ke budaya konsumtif.
Memang segala yang berbau potongan harga, diskon selalu gampang menarik minat orang….apalagi wanita (karena yang saya lihat wanita yang paling sensitif dengan yang namanya potongan harga). Apalagi kalau potongan harga makanannya mencapai 50%, beramai-ramai pergi makan siang ke sana. Tapi yang paling menggelitik pikiran saya adalah : pikir-pikir kasihan amat ya mau makan saja harus nunggu-nunggu ada diskon. Itupun harus ngutang, bener kan ngutang lah kan bayarnya pake kartu kredit. Paling gak si empunya kartu kredit yang ngutang, karena teman-teman yang pergi bersamanya tentu sudah bayar cash pada si empunya kartu kredit.
Sirik aja sih lo Ted? Ya biarin, cuma menyalurkan pikiran & keheranan saya saja. Ya maklum saya tidak termasuk kelas seperti itu, level saya masih makan di warteg belum kelas makan di restoran mahal
Sudah tahu beda kelas kok masih cerewet, duit-duit mereka, kartu kredit juga punya mereka kok lu yang jadi sirik Ted. Biarin, lah blog juga blog saya terserah saya donk mau tulis apa (**ngeles mode is ON**
)
Ganti Casing Pendrive
Sepulang dari Banjarmasin hari Sabtu lalu, harddisk eksternal Pendrive Sense saya rusak. Port USB yang ada di body-nya Sense terlepas. Awalnya saya curiga kenapa ada bunyi “klotak klotak” di dalam Pendrive Sense, saya pikir ada benda apa yang menyusup masuk ke dalam perangkat itu. Saya baru sadar saat akan menyambungkan harddisk eksternal saya ke notebook, colokan USBnya sudah tidak ada. Ternyata port USB-nya lepas dan berada di dalam, itu yang menyebabkan bunyi “klotak klotak” di dalam Pendrive Sense saya.
Nekat saja saya bongkar saja Pendrive Sense itu dengan obeng plus kecil. Sempat pusing juga mencari kotak obeng saya. Setelah cari pinjaman obeng, saya bisa buka casing-nya.Kelihatan lah port USB yang lepas itu. Saya putuskan untuk mencoba menyolder sendiri port USB itu ke circuit board-nya. Setelah menyolder sendiri port USB, saya coba sambungkan harddisk eksternal ke notebook saya. Lampu Pendrive Sense menyala tapi Windows tidak bisa mengenali eksternal harddisk tersebut. Waduh, cukup panik…saya takut harddisk-nya bermasalah & data-datanya hilang.
Sebenarnya harddisk eksternal yang baru saya beli 4 Juni 2008 lalu itu masih bergaransi 3 tahun. Tapi saya malas menukarkannya ke Bhinneka.com tempat saya membelinya dulu. Jadi Senin kemarin ketika pergi ke Glodok Plaza, saya sempatkan mencari enclosure/casing untuk harddisk 2.5″ SATA yang ada di dalam Pendrive Sense saya itu. Harga casing untuk harddisk 2.5″ SATA (entah merek apa) adalah Rp60.000,- Pulang kantor, cepat-cepat saya bongkar Pendrive Sense-nya lalu saya pindahkan harddisk-nya ke dalam casing baru itu. Mudah kok proses pemindahannya. Sayang tidak sempat mengambil foto saat mengganti casing harddisk eksternal kemarin. Berikut komik kumpulan foto harddisk saya sebelum dan sesudah berganti casing.
Sekarang harddisk eksternal saya sudah bisa saya pakai kembali; dengan casing baru tentunya ![]()
Cue Stick Stabilizer
Tiap cue stick dilengkapi oleh karet pada bagian bawah butt-nya. Karet itu lazim dikenal sebagai bumper. Bumper berfungsi untuk melindungi bagian bawah stik (butt) ketika stik sedang diletakkan dengan posisi berdiri atau ketika pemain sedang memegang stiknya sambil berdiri (bumper-lah yang akan bersentuhan dengan lantai). Foto di bawah ini adalah foto cue stick Joss 101 milik saya (bumper-nya adalah bagian berwarna hitam di bawah tulisan Joss).
Bumper tersebut bisa dilepas-pasang. Wujud dari bumper itu sendiri adalah seperti ini ketika sudah dilepas dari butt.
Bentuknya bulat dilengkapi dengan bagian berulir, persis seperti sebuah baut karet berpayung lebar. Nah ceritanya beberapa minggu lalu saya mengganti bumper standar bawaan Joss 101 dengan aksesori stabilizer. Aksesori itu bermerek Limbsaver tipe X-1 Cue Stick Stabilizer. Wujudnya setelah dipasang adalah seperti berikut ini :
Dengan tambahan Limbsaver ini, bumper Joss 101 saya jadi lebih panjang. Katanya sih aksesori ini berguna untuk mengurangi goncangan, membuat kestabilan pukulan kita. Saat kita melakukan ayunan sebelum memukul bola, gerakan stik kita jadi terasa lebih mantap. Sugesti apa memang benar ya? Halah pikir-pikir bohong juga sih…kalau main biliarnya masih pas-pasan seperti saya, biarpun dipasangi stabilizer tetap saja masih jelek pukulannya
. Lah kalau gitu ngapain saya beli? Ya biar bagus aja ditambahi aksesori, sukur-sukur kalau permainan saya jadi tambah bagus
Kalau Anda berminat memasang stabilizer pada stik biliar, bisa beli di rekan saya Ferry Danuarta yang punya IB Pro Shop.
Banjarmasin (satu part aja) - Soal Taksi
Biasanya tiap kali pergi tugas keluar kota, saya banyak menuliskan ceritanya ke dalam blog ini. Perjalanan saya kemarin ke Banjarmasin luput tertuang ceritanya. Jujurnya saya sedang kehilangan mood menulis & meng-update blog ini. Sibuk? Gak sih, cuma lagi kehilangan mood aja. Ok, saya tulis saja cerita saya Jumat & Sabtu kemarin…lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali
. Jadi ceritanya Jumat sore saya berangkat ke Banjarmasin untuk melakukan penggantian tape library-nya Telkomsel. Tape library emangnya apaan sih ? Gampangnya tape library ini adalah alat untuk mengamankan (backup & restore) data. Lihat fotonya di atas. Data akan ditulis ke dalam media tape. Tape-nya seperti apa, sayang saya tidak punya fotonya
Kenapa saya gak pernah ambil foto tape-nya ya?
Saya keluar dari Telkomsel sekitar pukul 1 pagi. Sepi sekali jalan raya Ahmad Yani Banjarmasin ini. Saya tunggu-tunggu tidak ada taksi yang lewat, tukang ojek yang biasa gampang ditemui di sekitar gedung Telkomsel pun tidak ada sama sekali. Selidik punya selidik (tanya resepsionis hotel), di Banjarmasin memang tidak ada taksi yang beroperasi 24 jam. Ada 2 nomor taksi di Banjarmasin yang saya coba hubungi pun tidak ada yang menjawab. Halah…repot kalau mau pergi malam-malam. Saya coba telepon hotel Arum minta dikirim taksi hotel, hasilnya sama : tidak ada taksi
Posisi saya sudah lelah sekali. Perut lapar sejak tadi sore belum makan malam. Saya coba telepon supir taksi kenalan saya, dia sudah pulang ke rumah dan menolak untuk menjemput saya. Tapi dia bilang pada saya coba saja susuri jalan Ahmad Yani, pasti ketemu ojek. Jadilah saya malam-malam jalan kaki dengan perut lapar. Untung akhirnya ketemu tukang ojek.
Saya baru sampai hotel Arum pukul setengah 2 pagi (sudah hari Sabtu berarti). Setelah check in cepat-cepat pesan makan, sekitar jam 2 malam saya baru makan malam
. Mungkin karena tingkat lapar saya sudah tinggi sekali, makan malam ini terasa enak sekali. Malam itu saya pesan udang goreng asam manis seperti ini :
Selesai makan nonton TV sebentar lalu segera tidur sekitar pukul 2.30. Karena saya sudah pegang tiket Garuda penerbangan jam 9.25 Sabtu pagi mau tidak mau saya harus bangun pagi. Jam setengah 8 saya berangkat ke airport setelah breakfast & check out. Hitung-hitung saya cuma tinggal di hotel Arum selama 6 jam
Untung pesawat saya kemarin tidak delay, jam 10 lebih saya sudah sampai di Jakarta.
Unmirroring RAID 1 di Solaris 10
Tulisan ini saya buat untuk menjawab pertanyaan mas Taufik tentang bagaimana cara melepas mirror file system di Solaris. Dulu saya pernah menulis tentang bagaimana membuat mirror file system di Solaris 10. Proses mirroring yang sudah pernah saya tuliskan tersebut menggunakan Solaris Volume Manager. Ok supaya lebih jelas saya tulis sekali lagi tentang apa itu mirror file system (RAID 1). Singkat saja hanya untuk memberi gambaran umum.
Ketika kita menginstal Solaris ke dalam sebuah komputer/server, kita menginstal Solaris ke dalam harddisk yang selanjutnya kita sebut sebagai boot disk. Untuk meningkatkan redundansi/keamanan data, sebaiknya harddisk tersebut kita buat copy-nya atau dengan kata lain mirror-nya. Solaris sebagai operating system tidak tahu bahwa harddisk yang digunakan ada 2 (boot disk & mirror-nya). Solaris tetap akan menganggap bahwa sistemnya diletakkan pada sebuah harddisk. Padahal yang sebenarnya terjadi setelah proses mirroring adalah Solaris sebenarnya melihat sebuah virtual disk yang merupakan gabungan antara boot disk dan mirror-nya. Dengan kata lain hardisk pertama akan menjadi submirror 1 dan harddisk kedua akan menjadi submirror 2. Baik submirror 1 dan submirror 2 menyimpan informasi yang sama dan terus menerus melakukan sinkronisasi. Tiap kali booting, submirror 1 (harddisk pertama) yang akan bekerja. Submirror 2 akan bekerja bilamana submirror 2 mengalami masalah (baik secara logical maupun secara physical). Kita pun bisa memaksa Solaris untuk melakukan booting dari submirror 2. Dengan adanya mirror, operating system dan data akan tetap aman bilamana salah satu harddisk mengalami kerusakan.
Kok mau singkat tetap saja jadi panjang ya
, saya coba ringkas lagi prinsip mirroring file system jadi seperti ini (mudah-mudahan jauh lebih ringkas) :
- Instal OS ke dalam harddisk A.
- Jadikan harddisk A sebagai submirror 1.
- Tambahkan harddisk B sebagai submirror 2.
- Gabungkan submirror 1 dan submirror 2 sebagai sebuah virtual boot disk. Gabungan ini kita sebut sebagai mirror C.
- Atur Solaris supaya mengenali mirror C tadi sebagai system disk. Alih-alih menulis data hanya ke dalam hardisk A yang terjadi sekarang adalah setiap kali menulis data Solaris akan menulis ke dalam mirror C, data yang ditulis akan tercantum baik di harddisk A maupun di harddisk B.
Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana mengembalikan konfigurasi harddisk seperti awal sesaat setelah proses instalasi (menghapus mirroring tadi). Misalkan kita ingin mengembalikan harddisk A sebagai satu-satunya file system disk Solaris, caranya adalah sebagai berikut (saya akan menggunakan contoh mirror yang sudah ada di tulisan sebelumnya) :
- Jalankan perintah
metastatuntuk memeriksa semua submirror dalam kondisi OK. - Untuk melepas masing-masing submirror, perintahnya adalah seperti berikut ini :
# metadetach d10 d12
# metadetach d20 d22
# metadetach d30 d32
# metadetach d40 d42
# metadetach d50 d52 - Jalankan perintah
metarootlagi untuk mengembalikan konfigurasi direktori root, kali ini format perintah yang digunakan adalah seperti berikut :# metaroot -r /dev/dsk/c0t0d0s0 - Edit file
/etc/vfstabsupaya menggunakan konfigurasi awal (seperti awal setelah instalasi).# more /etc/vfstab
/dev/dsk/c0t0d0s0 /dev/rdsk/c0t0d0s0 / ufs 1 no -
/dev/dsk/c0t0d0s1 swap - - - -
/dev/dsk/c0t0d0s3 /dev/rdsk/c0t0d0s3 /var ufs 1 no -
/dev/dsk/c0t0d0s4 /dev/rdsk/c0t0d0s4 /opt ufs 2 yes -
/dev/dsk/c0t0d0s5 /dev/rdsk/c0t0d0s5 /export/home ufs 2 yes - - Reboot server dengan perintah berikut ini :
# shutdown -i6 -y -g0 - Setelah reboot dan Solaris sudah up kembali, jalankan perintah berikut ini :
# metaclear -r d10
# metaclear -r d12
# metaclear -r d20
# metaclear -r d22
# metaclear -r d30
# metaclear -r d32
# metaclear -r d40
# metaclear -r d42
# metaclear -r d50
# metaclear -r d52
Jangan lupa sebaiknya Anda melakukan backup data terlebih dahulu sebelum melakukan proses unmirroring ini. Untuk jaga-jaga jangan-jangan tutorial yang saya tulis ini salah ![]()
Padang (part 2) - Tentang Minangkabau
Ini cerita tentang asal usul kata Minangkabau yang saya dapat dari Bang Roni (supir taksi yang tadi mengantar saya ke bandara). Awalnya saya iseng saja tanya, sebenarnya apa sih arti kata Minangkabau. Lalu dia bercerita lebih kurang seperti ini :
Minangkabau (minang + kabau) katanya berarti “menang kerbau”. Dulu katanya ada dongeng tentang asal usul nama Minangkabau, ada orang Padang (atau Sumatra Barat tepatnya) yang menang perlombaan adu kerbau. Katanya dulu saat ada pertandingan adu kerbau, orang dari Padang pakai akal-akalan supaya bisa menang dalam perlombaan adu kerbau. Tidak jelas juga siapa lawan orang Padang ini. Si Padang memilih untuk menggunakan anak kerbau yang masih menyusu. Tentu ini hal yang aneh karena umumnya orang akan menggunakan kerbaunya yang besar, kekar, dan kuat supaya bisa menang adu kerbau. Tapi si Padang memang punya 1001 akal supaya bisa menang. Anak kerbau yang masih menyusu dengan induknya, sengaja tidak diberi kesempatan menyusu selama beberapa hari.
Di hari pertandingan, lawan orang Padang tadi membawa kerbau betina besar yang kuat dan sepintas terlihat pasti menang pertandingan adu kerbau. Ah mungkin ini tragis, masa ada kerbau besar & kuat lawan anak kerbau yang masih menyusu. Tapi akal si Padang memang sadis (sadis apa licik ya?
), dipasanginya kepala si anak kerbau dengan sebilah pisau. Terus apa hubungannya dengan menang lomba? Berhubung si anak kerbau belum menyusu selama beberapa hari, ketika dilepas bertarung si anak kerbau ini malah mengejar lawannya untuk mencari susu. Akibatnya tentu sudah bisa diduga, saat si anak kerbau mencoba menyusu pada kerbau lawannya; pisau yang ada di kepalanya merobek perut kerbau besar tadi. Menanglah si Padang dalam lomba tadi, dapat hadiah kerbau. Dari situ muncul istilah “minang + kabau” (terjemahan bebasnya memenangkan kerbau).
He..he..he…rupanya begitu sejarahnya. Entah benar atau tidak lah wong ini cuma cerita versinya Bang Roni. Mungkin kalau ada orang Padang asli yang baca blog ini & punya versi yang lebih akurat bisa beritahu saya.
Oh ya, cerita di atas sekaligus menjawab keheranan saya mengapa rumah adat Sumatra Barat selalu beratap lancip. Lihat saja contohnya pada foto atap bandara internasional Minangkabau di samping ini. Katanya lancipnya atap rumah adat Padang itu menggambarkan kepala & tanduk kerbau. Hmm…masuk di akal sih kalau dihubungkan dengan cerita asal usul kata Minangkabau tadi. Lihat juga logo Semen Padang, juga menggunakan gambar kepala kerbau.
Rupanya kerbau mendapat tempat tersendiri dalam arsitektur rumah adat di Indonesia. Rumah adat lain yang saya tahu berkaitan dengan kerbau adalah rumah adat Toraja. Di Toraja Sulawesi, rumah adatnya berhiaskan tanduk-tanduk kerbau yang disusun ke atas. Nyambung gak sih sama cerita tentang Minangkabau? Yah yang penting ada kerbaunya lah ![]()
Hmm..saya baru sampai di rumah sekitar pukul 10 malam ini. GA165 yang saya tumpangi delay 1 jam lebih. Sore tadi sekitar pukul 4 saya ditelepon petugas Garuda Padang, dia mengabarkan bahwa pesawat akan mengalami delay sekitar 30 menit dari jadwal semula 18.25. Padang sore tadi hujan deras, petir juga ikut meramaikan suasana. Sepanjang penerbangan ada lebih kurang 3x saya lihat petir dari dalam pesawat. Ah..benar-benar perjalanan yang tidak menyenangkan.
Padang (part 1) - Hotel Ambacang
Selasa pagi saya berangkat ke Padang. Dari rumah saya berangkat sekitar pukul setengah 5 pagi. Mungkin karena hari ini adalah hari pertama setelah long weekend kemarin, bandara Soekarno Hatta ramai sekali. Penerbangan ke Padang dari Jakarta hanya 2 kali setiap harinya. Sepikah orang yang bepergian Jakarta-Padang sampai-sampai Garuda hanya punya 2 flight tiap harinya? Yang pertama pukul 06.05 yang kedua pukul 4 sore. Cukup menyebalkan berangkat dengan pesawat pagi, tidur semalam rasanya tidak tenang. Alhasil dari jam 12 lebih saya tidak tidur lagi sampai pagi.
Pagi ini kota Padang mendung cuacanya. Sepintas kesan yang saya tangkap, kota Padang itu cukup hijau. Perjalanan dari bandara internasional Minangkabau menuju hotel Ambacang, saya selalu melihat pepohonan & jalur hijau di mana-mana. Di tengah kota pun, pepohonan dan jalur hijau di tengah jalan pun cukup terawat. Kali ini saya menginap di hotel Ambacang, hotel ini ada di jalan Bundo Kanduang no 14-16 Padang 25119 (teleponnya 0751-39888….udah kaya biro iklan aja ya pake nyantumin nomor telponnya
). Saya sampai di hotel ini sekitar pukul setengah 9, perjalanan dari bandara Minangkabau ditempuh dalam waktu lebih kurang 30 menit. Berikut review singkat hotel Ambacang dalam komik :
Pelayanan room service cukup OK, pesanan makan saya datang cepat. Yang membuat saya surprise adalah setelah beberapa menit, pelayan menelepon lagi apakah piring kotornya bisa diambil kembali. Wah berkali-kali menginap di hotel, baru kali ini ada layanan mengambil piring kotor. Biasanya di hotel, piring kotor akan diambil oleh petugas saat membersihkan kamar keesokan harinya. Atau bisa saja tamu meletakkan piring kotor di depan pintu kamar supaya diambil petugas cleaning service. Tadi saya pesan ayam goreng Ambacang. Aneh rasanya, ada rasa jamu di dalam ayamnya. Mungkin kemarin ayamnya masuk angin jadi baru saja minum jamu ![]()
Tadi sempat mendapat bonus mencicipi mati lampu juga di hotel
(sebentar sih tapi cukup berkesan). Fasilitas internet di hotel ini ada di lobi, lagi-lagi layanan Telkom Hotspot yang bisa dinikmati dengan membeli voucher iVas. Menurut petugas resepsionis, di lantai 2 hotel ini juga ada business centre dengan layanan internet dengan biaya Rp18.000,-/jam. Hmmm…murah atau mahal ya? Tapi di business centre tamu tidak bisa memakai notebook pribadinya, sudah disediakan PC untuk dipakai berinternet. Jadi mau tidak mau saya pakai layanan Telkom Hotspot di lobi dengan voucher seharga Rp35.000,- untuk pemakaian selama 4 jam (seperti sekarang ini saat posting tulisan ini).
Rel Kereta & Pemukiman Kumuh
Kalau saya naik kereta api dari Cirebon menuju Jakarta, pemandangan yang saya lihat mula-mula adalah hamparan sawah yang menghijau (atau menguning kalau menjelang panen). Nah cara mendeteksi apakah sudah dekat dengan Jakarta apa belum, lihat saja pemandangan di luar.
Apakah sudah muncul deretan pemukiman kumuh di sepanjang rel kereta api? Jika ya, dapat dipastikan kereta sudah mulai mendekati wilayah Jakarta
Foto di samping ini adalah foto yang saya ambil beberapa saat setelah kereta api meninggalkan stasiun Jatinegara. Ini adalah pertanyaan yang muncul di benak saya saat tadi pagi pulang ke Jakarta dengan kereta Argo Jati : mengapa banyak pemukiman kumuh di sisi-sisi rel kereta api? Apa sih istimewanya rel kereta api, sampai-sampai banyak orang nekat membangun rumah seadanya di sana? Ada hasil analisis bodoh-bodohan melintas di benak saya, di antaranya adalah :
- Daerah di pinggiran rel kereta api mungkin adalah milik PT KAI. Jadi mereka asal saja membangun rumah/gubuk di sana, tanpa takut diusir oleh pemilik tanah. Pemilik tanahnya kan PT KAI jadi mungkin PT KAI termasuk golongan ramah terhadap penduduk pemukiman kumuh di sekitar rel kereta api. Atau mungkin karena PT KAI terlalu sibuk mengurusi perkeretaapian Indonesia jadi tidak punya waktu mengurusi daerah pemukiman kumuh yang berada dekat dengan rel kereta api.
- Mereka yang tinggal di sana adalah perantau dari daerah yang mencoba mengadu nasib ke Jakarta. Berhubung proses perantauannya gagal, mereka jadi bermukim di daerah-daerah yang dekat dengan stasiun kereta api. Asumsi tentu mereka dulu awalnya datang ke Jakarta dengan menumpang kereta api.
- Tinggal di sekitar rel kereta api cukup menguntungkan bagi bisnis mereka. Misalnya daerah-daerah rel kereta api yang juga dekat dengan stasiun kereta api, mereka mungkin banyak juga yang menggantungkan usahanya dari perkeretaapian. Entah itu jadi kuli angkut di stasiun, jadi pendagang asongan yang sering nekat loncat ke dalam kereta api saat ada kereta api yang berhenti, atau jadi pemulung sisa-sisa barang yang ditinggalkan penumpang kereta api (entah itu koran bekas, botol air minum, atau mungkin roti jatah penumpang kereta).
Kalau mau dianalisis lebih jauh harusnya PT KAI bertanggung jawab dalam mengamankan daerah pemukiman kumuh di pinggiran rel kereta api. Di beberapa titik, pemukiman yang dibangun benar-benar padat dan benar-benar dekat sekali dengan rel kereta api. Apa jadinya kalau terjadi kebakaran di pemukiman itu? Sudah pasti jadwal perjalanan kereta api akan terganggu. Beberapa tahun lalu saya pernah mengalami keterlambatan yang luar biasa, saat terjadi kebakaran hebat di pemukiman padat penduduk di daerah Manggarai. Selain itu rasanya kok gak nyaman di mata melihat pemandangan pemukiman kumuh selama perjalanan. Ah sudahlah…bukan urusan saya juga kan, tadi cuma sekadar pemikiran bodoh-bodohan saya melihat daerah-daerah kumuh di sepanjang rel kereta api.
15 Jam Di Cirebon
Hari Minggu kemarin saya pulang ke Cirebon. Sialnya saya hanya dapat tiket bisnis kereta Cirebon Express. Kelas bisnis kereta api tentu beda dengan kelas bisnisnya Garuda. Duduk di kelas bisnis KA Cirebon Express cukup menyiksa….panas. Gerbong kelas bisnis hanya dilengkapi dengan kipas angin. Itupun tidak cukup mengusir panas & gerah perjalanan di siang hari kemarin. Belum lagi perjalanan yang terlambat dari jadwal. Tapi tiket bisnis Cirebon Express masih malah loh, Rp60.000,-. Bandingkan dengan tiket kereta api eksekutif Argo Gede (Jakarta-Bandung) yang dibanting jadi Rp45.000,-. Minggu kemarin saya berangkat dari stasiun Gambir sekitar pukul 11.10 dan baru sampai di stasiun Cirebon sore pukul 3 kurang 10 menit. Perjalanan yang teorinya hanya sekitar 3 jam, harus saya tempuh selama hampir 4 jam. Tidur tidak nyaman, baca juga tidak nyaman. Ah pokoknya kemarin saya benar-benar tersiksa di kereta, pengennya cepat-cepat sampai di Cirebon.
Sampai di stasiun Cirebon, saya segera menuju tempat reservasi tiket untuk beli tiket pulang hari Senin ini. Ternyata tiket kereta api eksekutif hanya tersedia jam 6 pagi, kereta api Argo Jati. Mungkin sih kalau Senin ini saya langsung antri di loket, saya masih bisa dapat tiket kereta selain kereta jam 6 pagi. Tapi saya tidak mau ambil resiko, berhubung saya sudah pegang tiket untuk berangkat ke Padang Selasa pagi besok.
Jadilah saya pulang ke Cirebon hanya sekitar 15 jam. Tadi pagi saya pulang lagi ke Jakarta dengan kereta api Argo Jati pukul 05.45. Tadi sih perjalanan boleh dibilang tepat waktu. Berangkat dari Cirebon pukul 05.45 sampai di Jakarta pukul 08.40 (terlambat 8 menit dari jadwal yang tercetak di karcis..cukup bisa ditolerir). Pagi ini saya malah kedinginan di kereta. AC gerbong kereta Argo Jati mungkin diset maksimum. Enak sih untuk tidur, tapi kalau tidak bawa jaket seperti saya ya cukup tersiksa. Halah, komplain terus ya…kepanasan ngomel, kedinginan ngeluh
mau lu apa sih? Maunya sih perjalanan seperti tadi pagi, dingin, on time, & bawa jaket biar bisa nyaman tidur ![]()
Hmm…sepi ya Jakarta kalau libur panjang seperti sekarang ini. Eh foto di atas adalah salah satu foto yang saya ambil di jalan naik becak dari stasiun menuju rumah. Yang ada di foto tersebut adalah gambar gerbang pelabuhan Cirebon. Pelabuhan Cirebon (kalau tidak salah disebut Pelabuhan Tanjung Mas) sendiri punya 3 pintu gerbang. Nah yang di foto itu adalah foto gerbang I.















